News Update :

Powered by Blogger.

Manhaj Feed

AQIDAH feed

Doa dan Dzikir Feed

AMALAN Feed

Showing posts with label AKHLAK. Show all posts
Showing posts with label AKHLAK. Show all posts

Istiqamah dan Limpahan Rezeki

Sunday, August 31, 2014

Istiqamah ada dua macam. Ada yang tetap teguh pada kebenaran (ketaatan). Ada yang tetap teguh dalam kesesatan.
Faedah dari istiqamah adalah akan diberi limpahan rezeki. Jika seseorang istiqamah dalam ketaatan, maka ia akan dapat limpahan rezeki. Begitu pula yang terus menerus dalam kesesatan, maksiat dan dosa, bisa jadi diberi limpahan rezeki namun dalam bentuk istidroj.
Istidroj artinya diberi rezeki pada pelaku dosa supaya ia terus tergiur pada kubangan maksiat.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَن لَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا
Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).
لِّنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَن يُعْرِضْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا
Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.” (QS. Al Jinn: 16-17)

Mengajak Orang Lain untuk Baik Namun Lupa Akan Diri Sendiri

Friday, August 29, 2014

Inilah sifat orang Yahudi, mereka mengajak oranga lain berbuat kebaikan. Namun sayangnya, mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka enggan mengamalkan apa yang mereka ucap. Padahal mereka paham isi Taurat mereka. Seorang muslim tentu tidak boleh mengikuti sikap jelek orang Yahudi tersebut. Hendaklah setiap yang berdakwah, segera mengamalkan apa yang ia dakwahkan.
Allah Ta’ala berfirman,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah: 44).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa mereka -orang Yahudi- mengajak orang lain untuk beriman dan berbuat baik, namun sayangnya mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka sendiri meninggalkan apa yang mereka perintahkan. Padahal mereka membaca Al Kitab (Taurat). Apakah mereka tidak berpikir?
Syaikh As Sa’di juga memberikan pelajaran berharga bahwa akal itu disebut akal karena akal dapat mengerti manakah kebaikan yang membawa manfaat dan manakah sesuatu yang membawa kejelekan (dampak bahaya). Sehingga akal akan memerintahkan seseorang untuk menjadi orang pertama dalam melakukan perintah dan menjadi orang pertama pula dalam meninggalkan larangan.
Jika ada yang mengajak orang lain dalam kebaikan, namun ia sendiri tidak mengerjakannya atau melarang orang lain dari keburukan, namun ia sendiri tidak meninggalkannya, itu menunjukkan bahwa ia tidak memiliki akal dan tanda dirinya itu bodoh. Terkhusus jika ia tahu akan kebaikan dan keburukan tersebut, lalu sudah ditegakkan hujjah (argumen) atas dirinya.
Walaupun ayat ini ditujukan pada Bani Israil, namun sebenarnya isi kandungannya berlaku untuk setiap orang. Karena Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3).
Ayat di atas tidaklah menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mengamalkan yang ia ilmui berarti ia meninggalkan amar maruf nahi munkar secara total. Namun ayat tersebut cuma menunjukkan ketercelaan karena seseorang meninggalkan dua kewajiban. Karena perlu dipahami bahwa manusia memiliki dua kewajiban yaitu memerintahkan (mendakwahi) orang lain dan mengajak pula diri sendiri. Jika seseorang meninggalkan salah satunya, jangan sampai ia meninggalkan yang lainnya. Yang sempurna memang seseorang melakukan kedua-duanya. Jika kedua-duanya ditinggalkan berarti itu kekurangan yang sempurna. Jika hanya menjalankan salah satunya, berarti tidak mencapai derajat pertama (derajat kesempurnaan), namun tidak tercela seperti yang terakhir (derajat ketidaksempurnaan).
Perlu diketahui pula bahwa sifat jiwa tidaklah patuh pada orang yang berkata namun tindakan nyatanya itu berbeda. Manusia akan lebih senang mengikuti orang yang mempraktekkan langsung dibanding dengan orang yang cuma sekedar berucap.
Demikian, penjelasan di atas adalah kutipan dari penjelasan Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 51.
Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan petunjuk dalam ilmu dan amal.

KIAT AGAR TETAP ISTIQOMAH

Sunday, July 20, 2014

Keutamaan Orang yang Bisa Terus Istiqomah

Yang dimaksud istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.[1] Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.


Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

Jalan Golongan Yang Selamat

Saturday, June 14, 2014

Firqatun Najiyah

Istilah golongan yang selamat yang dalam bahasa Arab disebut dengan al-firqatu an-najiyah ( الفرقة الناجية ) muncul berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yakni:
افترقت اليهود على إحدى و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و سبعين في النار ، و افترقت النصارى على اثنين و سبعين فرقة فواحدة في الجنة و إحدى و سبعين في النار ، و الذي نفسي بيده لتفترقن أمتي على ثلاث و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و ثنتين و سبعين في النار ، قيل يا رسول الله من هم ؟ قال : هم الجماعة
Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh di Neraka, dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh satu di Neraka, dan demi yang jiwaku di tangan-Nya sungguh ummatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh dua di Neraka, dikatakan “Wahai Rasul ALLAH siapa mereka itu?”, beliau berkata: “Mereka adalah al-Jama’ah.”” (HR Ahmad, shahih).

Aku Mencintaimu Karena Allah

Salah satu perintah dalam Islam adalah menyatakan cinta karena Allah. Namun tentu saja cinta bukan dinyatakan pada lawan jenis yang tidak halal karena adanya godaan besar di balik itu.
Dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ
Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 421/542, shahih kata Syaikh Al Albani)

Rujuk dari Kekeliruan Apabila Kebenaran Telah Nampak

Friday, May 23, 2014


Sifat ini merupakan kesempurnaan kewaraan dan kejujuran seseorang. Orang yang jujur tidak akan berdiri dengan kaki lemah dan goyah di hadapan dirinya ketika telah jelas kekeliruan padanya. Ia tidak akan membayangkan hal itu akan mengurangi kedudukannya dan tidak pula melemahkan kewibawaannya. Bahkan, ia akan bersegera memegang kendali kebenaran dan menggigitnya dengan gigi gerahamnya. Tentu saja, ini membutuhkan penghapusan hawa nafsu dan anggapan kesucian diri.

As-salafush-shaalih telah mengajarkan kepada kita manhaj yang jelas lagi terang dalam permasalahan ini. Inilah dia ‘Umar bin Al-Khaththaab yang menulis sepucuk surat kepada Abu Muusaa

Keutamaan Menuntut Ilmu dan Adab-Adab Penuntut Ilmu

Thursday, May 22, 2014

Diantara perkara mulia yang hendaknya menjadi kesibukan kita adalah menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ilmu yang bersumber dari keduanya adalah cahaya dan pelita bagi pemiliknya, sehingga nampak jelas baginya kegelapan kebatilan dan kesesatan. Orang yang memiliki ilmu akan dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid’ah. Maka ilmu adalah perkara mulia yang hendaknya menjadi perhatian setiap muslim, perkara yang harus diutamakan. Karena ilmu itu lebih didahulukan daripada perkataan dan perbuatan. Sebagaimana firman Allah ta’ala :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ  [محمد:19]
“Ketauhilah, sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan mintalah ampun atas dosa-dosamu.”  [Muhammad : 16]
Didalam ayat diatas Allah lebih mendahulukan ilmu daripada perkataan dan perbuatan.

Bahaya Penyimpangan Aqidah

Sunday, April 20, 2014

Bagi seorang muslim, keharusan memiliki
akidah yang benar merupakan sesuatu yang
tidak bisa ditawar lagi. Baginya, kedudukan
akidah yang benar seperti kepala bagi jasad.
Di atas akidah yang benar inilah akan dibangun segala amal prbuatannya, yang nantinya akan menentukan bermanfaat atau tidaknya amalan tersebut di hadapan Allah l. Kerusakan terbesar yang menodai kesucian fitrah setiap insan adalah penyimpangan di dalam akidah. Kerusakan inilah yang menjadi tujuan akhir dari setiap gerakan setan, yang berlayar dan berlabuh di atas kesucian fitrah manusia dengan senjata yang sulit tertandingi kecuali oleh orang-orang yang mendapat rahmat dan taufik serta hidayah dari Allah l. Dua senjata ampuh setan dalam merusak fitrah manusia adalah syubhat dan syahwat. Dengan syubhat yang disebarkan setan, sesuatu yang haq bisa menjadi samar-samar bahkan menjadi batil dan sebaliknya yang batil bisa menjadi haq dalam pandangan orang yang terfitnah (menyimpang). Dengan syubhatnya pula, tauhid bisa menjadi syirik dan sebaliknya syirik bisa menjadi tauhid. Pun dengan syubhatnya, sunnah bisa menjadi bid’ah dan bid’ah bisa menjadi sunnah, demikian seterusnya. Adapun syahwat, maka dengannya semua keharaman akan mudah dilakukan serta menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mendatangkan kepuasan hidup; berzina, berjudi, minum khamr, membunuh, mencaci-maki, menyakiti, berbuat sihir, mencuri, dan segala bentuk keharaman lainnya. Bila umat berkubang dalam kerusakan fitrah dan akidah, maka tidak ada penyebabnya selain syubhat dan syahwat. Oleh karena itu, Allah l mengatakan di dalam Al-Qur’an: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat- ayat Kami.” (as-Sajdah: 24) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Dengan kesabaran dan keyakinan akan didapatkan kepemimpinan dalam agama di muka bumi ini.” As-Sa’di dalam Tafsir-nya (hlm. 656) mengatakan, “Derajat yang tinggi ini mereka peroleh dengan kesabaran dalam belajar dan mengajar, berdakwah di jalan Allah l, bersabar terhadap gangguan di jalan Allah l, dan menahan diri-diri mereka untuk berlabuh dalam lautan maksiat dan lautan syahwat. ‘Mereka yakin dengan ayat-ayat Kami’ artinya dengan keimanan mereka terhadap ayat-ayat Allah l, mereka sampai ke derajat yakin, yaitu ilmu yang sempurna yang menuntut amal. Mereka sampai ke derajat yakin karena mereka belajar dengan benar dan mengambil ilmu tersebut dengan dalil- dalilnya yang membuahkan keyakinan. Mereka mempelajari terus-menerus ilmu dengan dalil-dalilnya sehingga mengantarkan mereka ke derajat yakin. Maka dengan kesabaran dan keyakinan akan diperoleh kepemimpinan dalam agama.” Dalam ayat ini, Allah l memberikan pelajaran besar bahwa untuk mematahkan kedua senjata iblis tersebut adalah dengan cara mempelajari ilmu dan bersabar. Dengan ilmu, akan terpatahkan segala wujud dan bahaya syubhat, serta dengan kesabaran akan bisa terpadamkan kobaran api syahwat. Akidah adalah Fondasi Islam Akidah adalah sesuatu yang sangat penting karena di atasnya dibangun amalan-amalan seorang muslim. Artinya, bila akidah ini rusak maka amalan yang terbangun di atasnya akan ikut rusak pula. Akidah terhadap amalan bagaikan ruh terhadap jasad seseorang. Nilai sebuah amalan tergantung pada bagus atau tidaknya dasar amalan tersebut. Rasulullah n bersabda dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar c: ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ n ﻳﻘﻮﻝ: ﺑﻨﻲ ﺍﻟﺈﺳﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺧﻤﺲ: ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻗﺎﻡ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺇﻳﺘﺎﺀ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻭﺣﺞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻭﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ “Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Islam di bangun di atas lima dasar: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadhan’.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 7 dan Muslim no. 16) Al-Imam an-Nawawi t mengatakan, “Sesungguhnya hadits ini adalah dasar yang agung dalam mengilmui agama dan di atas dasar inilah Islam tegak. Hadits ini telah menghimpun rukun-rukun agama.” (Syarah Shahih Muslim, 1/152) Akidah yang Benar Telah disebutkan bahwa akidah merupakan ruh dari seluruh amalan di dalam Islam. Akan tetapi pada kenyataannya banyak jenis akidah berkembang di tengah kaum muslimin. Manakah yang menjadi fondasi Islam tersebut? Dan manakah akidah yang bukan menjadi fondasinya? Akidah yang benar adalah akidah yang terambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Akidah inilah yang menjadi fondasi Islam dan yang menjadi asas diterimanya seluruh amalan. Inilah makna ucapan al-Imam asy-Syafi’i t ketika beliau menyatakan, “Aku beriman kepada Allah l dan (kepada) apa-apa yang diutus-Nya sesuai dengan apa yang dimaukan-Nya.”1 (ar-Risalah, hlm. 7, Majmu’ Fatawa, 4/182— 184, dan Ijtima’ al-Juyusy, hlm. 164—165) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Ucapan asy-Syafi’i (tersebut) adalah haq, wajib atas setiap muslim untuk meyakininya. Barang siapa meyakininya dan tidak melakukan apa-apa yang akan membatalkannya maka sungguh dia telah menempuh jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.” Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t mengatakan, “Ucapan al-Imam asy-Syafi’i mengandung keimanan kepada apa yang datang dari Allah l di dalam kitab-Nya sesuai dengan apa yang dimaukan-Nya tanpa menambah, mengurangi, dan menyelewengkannya.” (Lum’atul I’tiqad, hlm. 37) Asy-Syaikh Ibnu Baz t mengatakan, “Telah jelas dengan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa amalan-amalan serta semua ucapan akan sah diterima apabila muncul dari akidah yang benar. Apabila akidah tersebut batil maka batal pula seluruh amalan dan ucapan yang dibangun di atasnya. Sebagaimana firman Allah l: “Barang siapa yang mengingkari keimanan maka sungguh telah terhapus amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (al-Maidah: 5) “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu (bahwa) jika kamu menyekutukan Allah niscaya benar-benar amalmu akan terhapus dan kamu benar-benar termasuk orang- orang yang merugi.” (az-Zumar: 65) Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menunjukkan bahwa akidah yang benar adalah akidah yang terhimpun dan terangkum di dalam rukun iman yaitu beriman kepada Allah l, kepada malaikat- Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul- rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada takdir Allah l yang baik ataupun buruk. Perkara yang enam ini merupakan prinsip- prinsip dasar akidah yang benar, yang karenanya Allah l menurunkan Al-Qur’an dan Allah l mengutus Rasul-Nya Muhammad n. (al-‘Aqidah ash-Shahihah, hlm. 3) Kesimpulannya, akidah yang benar adalah akidah yang diambil dari Al-Qur’an dan As- Sunnah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Akidah yang benar ini adalah asas yang Islam dibangun di atasnya dan fondasi dibangunnya seluruh amalan dan ucapan yang diridhai Allah l. Akidah yang Rusak Akidah yang rusak adalah lawan akidah sahihah. Yaitu akidah yang terambil dari peninggalan nenek moyang (taklid), dari fanatisme golongan, jamaah, atau individu, dan yang terambil dari akal. Tentang akidah yang rusak ini, Allah l menjelaskan di dalam firman-Nya: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang- orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata, ‘Apakah kamu akan mengikuti mereka, sekalipun aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (az-Zukhruf: 23—24) “Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang kafir), ‘Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah!’ Mereka mengatakan, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (al- Baqarah: 170) “Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami dulu’.” (al-Qashash: 36) “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah oleh kalian, (karena) sekali-kali tidak ada sembahan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada- Nya).’ Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang bermaksud hendak menjadi orang yang lebih tinggi dari kalian. Dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat, belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami dahulu. Ia tidak lain hanyalah seseorang lelaki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu’.” (al-Mu’minun: 23—25) “Mereka menjadikan orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa.” (at- Taubah: 31) Ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah n kepada ‘Adi bin Hatim z ketika ia datang dalam keadaan sudah menjadi seorang muslim (sebelumnya ia adalah seorang Nasrani) sebagaimana riwayat al-Imam Ahmad dalam Musnad beliau (4/378) dan al-Imam at- Tirmidzi (no. 3094). ‘Adi bin Hatim z menemui Rasululah n, lalu beliau n membacakan ayat ini. ‘Adi bin Hatim berkata, “Mereka tidak menyembahnya.” Rasulullah n berkata, “Bahkan (mereka menyembahnya), (bukankah) mereka (orang alim dan pendeta-pendeta tersebut) telah mengharamkan apa yang dihalalkan atas mereka, dan menghalalkan apa yang telah diharamkan atas mereka, lantas mereka mengikutinya? Itulah penyembahan kepada mereka.” (Dihasankan oleh asy-Syaikh al- Albani dalam Ghayatul Maram no. 6) Ayat-ayat di atas menjelaskan corak akidah batil yang diambil dari ajaran nenek moyang, ajaran individu, atau kelompoknya. Ayat-ayat di atas juga menjelaskan corak kehidupan jahiliah yang melilit leher-leher mereka dengan belenggu taklid. Juga corak kehidupan Yahudi dan Nasrani yang dikungkung dalam penjara ghuluw (berlebihan) dalam menyikapi tokoh-tokoh mereka. Oleh karena itu, mereka terus-menerus berlayar di lautan kebodohan dengan perahu tanpa nakhoda. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t dalam kitab Masa’il al-Jahiliah mengatakan, “Sesungguhnya keyakinan (agama) mereka dibangun di atas prinsip- prinsip dasar yang paling besar yaitu taklid (mengekor), dan ini merupakan kaidah besar pada seluruh agama kekafiran yang dulu ataupun yang terakhir.” Asy-Syaikh Ibnu Baz t mengatakan bahwa orang-orang yang menyelisihi akidah yang benar dan terus berjalan dalam memeranginya jumlahnya banyak sekali. Pertama, para penyembah patung, berhala, malaikat, wali-wali, jin, pohon-pohon, batu- batu, dan lain sebagainya. Kedua, orang-orang yang berakidah ilhad (ingkar/menyeleweng) di masa sekarang ini, yang mereka adalah pengikut Marxis dan Lenin serta penyeru-penyeru ilhad dan kufur selain mereka, apa pun istilah mereka; kapitalisme, komunisme, ba’tsiyyah (sosialisme), dan sebagainya. Karena konsep dasar mereka adalah tidak ada Tuhan dan bahwa kehidupan itu hanyalah materi. Termasuk prinsip dasar mereka adalah ingkar kepada hari akhir, ingkar kepada surga, neraka, dan seluruh agama. Ketiga, apa-apa yang diyakini oleh sebagian aliran kebatinan atau sebagian orang-orang sufi bahwa di antara tokoh atau wali-wali mereka ada yang berkedudukan seperti Allah l dalam pengaturan alam ini dan mereka namakan dengan aqthab, autad, aqwas, dan sebagainya. (disarikan dari al-‘Akidah ash-Shahihah secara ringkas, hlm. 20 dan seterusnya) Bahaya Kerusakan Akidah Bahaya kerusakan akidah bersifat laten baik terhadap individu, jamaah, maupun umat di dunia dan di akhirat. Di antara bahaya- bahayanya adalah: a) Menjerumuskan seseorang atau jamaah ke dalam lubang kesyirikan dan kekufuran serta pengingkaran terhadap akidah yang benar yang diturunkan oleh Allah l dan dibawa oleh Rasul-Nya n. b) Menolak ketentuan-ketentuan syariat dan mengutamakan ajaran nenek moyang, fanatisme akal, dan sebagainya daripada ketentuan-ketentuan syariat tersebut. c) Mengakibatkan kehinaan, keterbe- lakangan, dan kerendahan umat Islam sepanjang masa dan tempat. d) Memecah-belah persatuan umat, menghancurkan kejayaan mereka serta kemenangan demi kemenangan yang telah mereka raih. e) Menjauhkan kaum muslimin dari pertolongan Allah l. f) Menyebabkan terjatuh ke dalam neraka dan kekal di dalamnya (dinukil secara makna dari al-‘Akidah al-Islamiyyah, hlm. 22 dan seterusnya). Seruan Allah l kepada Umat Allah l berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya, amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya).” (al-A’raf: 3) “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (al-An’am: 116) “Katakanlah, ‘Wahai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Maidah: 77) Wallahu a’lam.
Sumber Bacaan: Al-Qur’an Al-Karim Shahih al-Bukhari Shahih Muslim Riyadhush Shalihin Tafsir as-Sa’di Syarah Masa’il al-Jahiliah al-‘Aqidah ash-Shahihah al-’Aqidah al-slami

Mengapa Manhaj Salafus Sholeh ?

Saturday, April 12, 2014

Buat bekal agar semakin mantap melangkah di
atas manhaj yang haq. Supaya bermanfaat
untuk diri saya sendiri dan juga shahabat tholabul 'ilmi yang lain, dan berusaha mengamalkan surat al-'asr, untuk
selalu tawashoubil haq.
Pastinya sebagian dari umat Islam sudah
memahami apa itu manhaj? salaf? dan manhaj
salaf? Secara bahasa manhaj adalah jalan. Salaf
artinya terdahulu, yang dimaksud para salaf adalah
generasi sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in. Manhaj
salaf adalah sebuah metodologi dalam memahami
Al-Qur'an dan As-sunnah yang merujuk pada
pemahaman tiga generasi terbaik. Namun, untuk
memahami istilah salaf, kita harus lihat dari dua
pengertian berikut:

Saudariku Muslimah Tutuplah Auratmu !!!

Saturday, March 29, 2014

Saudariku muslimah yang dimuliakan Allah…
Sesungguhnya syaithan dan bala tentaranya senantiasa berusaha untuk menyesatkan hamba-hamba Allah agar terjerumus ke dalam jurang neraka. Iblis yang merupakan syaithan dari bangsa jin telah bersumpah dihadapan Allah ‘azza wajalla akan menyesatkan seluruh manusia. Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman mengenai perkataan dan sumpah Iblis tersebut,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,”” (Qs. Shaad : 82)

Remaja Feed

Nasehat feed

Sentu Hatimu Feed

AL QURAN Feed

JALAN KEBENARAN Feed

 

© Copyright BERSATU DALAM ISLAM 2012 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.