News Update :

Powered by Blogger.

Manhaj Feed

AQIDAH feed

Doa dan Dzikir Feed

AMALAN Feed

Showing posts with label AKHLAK. Show all posts
Showing posts with label AKHLAK. Show all posts

Istiqamah dan Limpahan Rezeki

Sunday, August 31, 2014

Istiqamah ada dua macam. Ada yang tetap teguh pada kebenaran (ketaatan). Ada yang tetap teguh dalam kesesatan.
Faedah dari istiqamah adalah akan diberi limpahan rezeki. Jika seseorang istiqamah dalam ketaatan, maka ia akan dapat limpahan rezeki. Begitu pula yang terus menerus dalam kesesatan, maksiat dan dosa, bisa jadi diberi limpahan rezeki namun dalam bentuk istidroj.
Istidroj artinya diberi rezeki pada pelaku dosa supaya ia terus tergiur pada kubangan maksiat.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَن لَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا
“Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).”
لِّنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَن يُعْرِضْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا
“Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.” (QS. Al Jinn: 16-17)

Mengajak Orang Lain untuk Baik Namun Lupa Akan Diri Sendiri

Friday, August 29, 2014

Inilah sifat orang Yahudi, mereka mengajak oranga lain berbuat kebaikan. Namun sayangnya, mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka enggan mengamalkan apa yang mereka ucap. Padahal mereka paham isi Taurat mereka. Seorang muslim tentu tidak boleh mengikuti sikap jelek orang Yahudi tersebut. Hendaklah setiap yang berdakwah, segera mengamalkan apa yang ia dakwahkan.
Allah Ta’ala berfirman,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah: 44).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa mereka -orang Yahudi- mengajak orang lain untuk beriman dan berbuat baik, namun sayangnya mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka sendiri meninggalkan apa yang mereka perintahkan. Padahal mereka membaca Al Kitab (Taurat). Apakah mereka tidak berpikir?
Syaikh As Sa’di juga memberikan pelajaran berharga bahwa akal itu disebut akal karena akal dapat mengerti manakah kebaikan yang membawa manfaat dan manakah sesuatu yang membawa kejelekan (dampak bahaya). Sehingga akal akan memerintahkan seseorang untuk menjadi orang pertama dalam melakukan perintah dan menjadi orang pertama pula dalam meninggalkan larangan.
Jika ada yang mengajak orang lain dalam kebaikan, namun ia sendiri tidak mengerjakannya atau melarang orang lain dari keburukan, namun ia sendiri tidak meninggalkannya, itu menunjukkan bahwa ia tidak memiliki akal dan tanda dirinya itu bodoh. Terkhusus jika ia tahu akan kebaikan dan keburukan tersebut, lalu sudah ditegakkan hujjah (argumen) atas dirinya.
Walaupun ayat ini ditujukan pada Bani Israil, namun sebenarnya isi kandungannya berlaku untuk setiap orang. Karena Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3).
Ayat di atas tidaklah menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mengamalkan yang ia ilmui berarti ia meninggalkan amar maruf nahi munkar secara total. Namun ayat tersebut cuma menunjukkan ketercelaan karena seseorang meninggalkan dua kewajiban. Karena perlu dipahami bahwa manusia memiliki dua kewajiban yaitu memerintahkan (mendakwahi) orang lain dan mengajak pula diri sendiri. Jika seseorang meninggalkan salah satunya, jangan sampai ia meninggalkan yang lainnya. Yang sempurna memang seseorang melakukan kedua-duanya. Jika kedua-duanya ditinggalkan berarti itu kekurangan yang sempurna. Jika hanya menjalankan salah satunya, berarti tidak mencapai derajat pertama (derajat kesempurnaan), namun tidak tercela seperti yang terakhir (derajat ketidaksempurnaan).
Perlu diketahui pula bahwa sifat jiwa tidaklah patuh pada orang yang berkata namun tindakan nyatanya itu berbeda. Manusia akan lebih senang mengikuti orang yang mempraktekkan langsung dibanding dengan orang yang cuma sekedar berucap.
Demikian, penjelasan di atas adalah kutipan dari penjelasan Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 51.
Semoga bermanfaat. Moga Allah memberikan petunjuk dalam ilmu dan amal.
—

KIAT AGAR TETAP ISTIQOMAH

Sunday, July 20, 2014

Keutamaan Orang yang Bisa Terus Istiqomah

Yang dimaksud istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.[1] Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.


Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

Jalan Golongan Yang Selamat

Saturday, June 14, 2014

Firqatun Najiyah

Istilah golongan yang selamat yang dalam bahasa Arab disebut dengan al-firqatu an-najiyah ( الفرقة الناجية ) muncul berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yakni:
افترقت اليهود على إحدى و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و سبعين في النار ، و افترقت النصارى على اثنين و سبعين فرقة فواحدة في الجنة و إحدى و سبعين في النار ، و الذي نفسي بيده لتفترقن أمتي على ثلاث و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و ثنتين و سبعين في النار ، قيل يا رسول الله من هم ؟ قال : هم الجماعة
“Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh di Neraka, dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh satu di Neraka, dan demi yang jiwaku di tangan-Nya sungguh ummatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh dua di Neraka, dikatakan “Wahai Rasul ALLAH siapa mereka itu?”, beliau berkata: “Mereka adalah al-Jama’ah.”” (HR Ahmad, shahih).

Aku Mencintaimu Karena Allah

Salah satu perintah dalam Islam adalah menyatakan cinta karena Allah. Namun tentu saja cinta bukan dinyatakan pada lawan jenis yang tidak halal karena adanya godaan besar di balik itu.
Dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ
“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 421/542, shahih kata Syaikh Al Albani)

Rujuk dari Kekeliruan Apabila Kebenaran Telah Nampak

Friday, May 23, 2014


Sifat ini merupakan kesempurnaan kewaraan dan kejujuran seseorang. Orang yang jujur tidak akan berdiri dengan kaki lemah dan goyah di hadapan dirinya ketika telah jelas kekeliruan padanya. Ia tidak akan membayangkan hal itu akan mengurangi kedudukannya dan tidak pula melemahkan kewibawaannya. Bahkan, ia akan bersegera memegang kendali kebenaran dan menggigitnya dengan gigi gerahamnya. Tentu saja, ini membutuhkan penghapusan hawa nafsu dan anggapan kesucian diri.

As-salafush-shaalih telah mengajarkan kepada kita manhaj yang jelas lagi terang dalam permasalahan ini. Inilah dia ‘Umar bin Al-Khaththaab yang menulis sepucuk surat kepada Abu Muusaa

Keutamaan Menuntut Ilmu dan Adab-Adab Penuntut Ilmu

Thursday, May 22, 2014

Diantara perkara mulia yang hendaknya menjadi kesibukan kita adalah menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ilmu yang bersumber dari keduanya adalah cahaya dan pelita bagi pemiliknya, sehingga nampak jelas baginya kegelapan kebatilan dan kesesatan. Orang yang memiliki ilmu akan dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid’ah. Maka ilmu adalah perkara mulia yang hendaknya menjadi perhatian setiap muslim, perkara yang harus diutamakan. Karena ilmu itu lebih didahulukan daripada perkataan dan perbuatan. Sebagaimana firman Allah ta’ala :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ  [محمد:19]
“Ketauhilah, sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan mintalah ampun atas dosa-dosamu.”  [Muhammad : 16]
Didalam ayat diatas Allah lebih mendahulukan ilmu daripada perkataan dan perbuatan.

Bahaya Penyimpangan Aqidah

Sunday, April 20, 2014

Bagi seorang muslim, keharusan memiliki
akidah yang benar merupakan sesuatu yang
tidak bisa ditawar lagi. Baginya, kedudukan
akidah yang benar seperti kepala bagi jasad.
Di atas akidah yang benar inilah akan dibangun segala amal prbuatannya, yang nantinya akan menentukan bermanfaat atau tidaknya amalan tersebut di hadapan Allah l. Kerusakan terbesar yang menodai kesucian fitrah setiap insan adalah penyimpangan di dalam akidah. Kerusakan inilah yang menjadi tujuan akhir dari setiap gerakan setan, yang berlayar dan berlabuh di atas kesucian fitrah manusia dengan senjata yang sulit tertandingi kecuali oleh orang-orang yang mendapat rahmat dan taufik serta hidayah dari Allah l. Dua senjata ampuh setan dalam merusak fitrah manusia adalah syubhat dan syahwat. Dengan syubhat yang disebarkan setan, sesuatu yang haq bisa menjadi samar-samar bahkan menjadi batil dan sebaliknya yang batil bisa menjadi haq dalam pandangan orang yang terfitnah (menyimpang). Dengan syubhatnya pula, tauhid bisa menjadi syirik dan sebaliknya syirik bisa menjadi tauhid. Pun dengan syubhatnya, sunnah bisa menjadi bid’ah dan bid’ah bisa menjadi sunnah, demikian seterusnya. Adapun syahwat, maka dengannya semua keharaman akan mudah dilakukan serta menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mendatangkan kepuasan hidup; berzina, berjudi, minum khamr, membunuh, mencaci-maki, menyakiti, berbuat sihir, mencuri, dan segala bentuk keharaman lainnya. Bila umat berkubang dalam kerusakan fitrah dan akidah, maka tidak ada penyebabnya selain syubhat dan syahwat. Oleh karena itu, Allah l mengatakan di dalam Al-Qur’an: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat- ayat Kami.” (as-Sajdah: 24) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Dengan kesabaran dan keyakinan akan didapatkan kepemimpinan dalam agama di muka bumi ini.” As-Sa’di dalam Tafsir-nya (hlm. 656) mengatakan, “Derajat yang tinggi ini mereka peroleh dengan kesabaran dalam belajar dan mengajar, berdakwah di jalan Allah l, bersabar terhadap gangguan di jalan Allah l, dan menahan diri-diri mereka untuk berlabuh dalam lautan maksiat dan lautan syahwat. ‘Mereka yakin dengan ayat-ayat Kami’ artinya dengan keimanan mereka terhadap ayat-ayat Allah l, mereka sampai ke derajat yakin, yaitu ilmu yang sempurna yang menuntut amal. Mereka sampai ke derajat yakin karena mereka belajar dengan benar dan mengambil ilmu tersebut dengan dalil- dalilnya yang membuahkan keyakinan. Mereka mempelajari terus-menerus ilmu dengan dalil-dalilnya sehingga mengantarkan mereka ke derajat yakin. Maka dengan kesabaran dan keyakinan akan diperoleh kepemimpinan dalam agama.” Dalam ayat ini, Allah l memberikan pelajaran besar bahwa untuk mematahkan kedua senjata iblis tersebut adalah dengan cara mempelajari ilmu dan bersabar. Dengan ilmu, akan terpatahkan segala wujud dan bahaya syubhat, serta dengan kesabaran akan bisa terpadamkan kobaran api syahwat. Akidah adalah Fondasi Islam Akidah adalah sesuatu yang sangat penting karena di atasnya dibangun amalan-amalan seorang muslim. Artinya, bila akidah ini rusak maka amalan yang terbangun di atasnya akan ikut rusak pula. Akidah terhadap amalan bagaikan ruh terhadap jasad seseorang. Nilai sebuah amalan tergantung pada bagus atau tidaknya dasar amalan tersebut. Rasulullah n bersabda dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar c: ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ n ﻳﻘﻮﻝ: ﺑﻨﻲ ﺍﻟﺈﺳﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺧﻤﺲ: ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻗﺎﻡ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺇﻳﺘﺎﺀ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻭﺣﺞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻭﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ “Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Islam di bangun di atas lima dasar: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadhan’.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 7 dan Muslim no. 16) Al-Imam an-Nawawi t mengatakan, “Sesungguhnya hadits ini adalah dasar yang agung dalam mengilmui agama dan di atas dasar inilah Islam tegak. Hadits ini telah menghimpun rukun-rukun agama.” (Syarah Shahih Muslim, 1/152) Akidah yang Benar Telah disebutkan bahwa akidah merupakan ruh dari seluruh amalan di dalam Islam. Akan tetapi pada kenyataannya banyak jenis akidah berkembang di tengah kaum muslimin. Manakah yang menjadi fondasi Islam tersebut? Dan manakah akidah yang bukan menjadi fondasinya? Akidah yang benar adalah akidah yang terambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Akidah inilah yang menjadi fondasi Islam dan yang menjadi asas diterimanya seluruh amalan. Inilah makna ucapan al-Imam asy-Syafi’i t ketika beliau menyatakan, “Aku beriman kepada Allah l dan (kepada) apa-apa yang diutus-Nya sesuai dengan apa yang dimaukan-Nya.”1 (ar-Risalah, hlm. 7, Majmu’ Fatawa, 4/182— 184, dan Ijtima’ al-Juyusy, hlm. 164—165) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Ucapan asy-Syafi’i (tersebut) adalah haq, wajib atas setiap muslim untuk meyakininya. Barang siapa meyakininya dan tidak melakukan apa-apa yang akan membatalkannya maka sungguh dia telah menempuh jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.” Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t mengatakan, “Ucapan al-Imam asy-Syafi’i mengandung keimanan kepada apa yang datang dari Allah l di dalam kitab-Nya sesuai dengan apa yang dimaukan-Nya tanpa menambah, mengurangi, dan menyelewengkannya.” (Lum’atul I’tiqad, hlm. 37) Asy-Syaikh Ibnu Baz t mengatakan, “Telah jelas dengan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa amalan-amalan serta semua ucapan akan sah diterima apabila muncul dari akidah yang benar. Apabila akidah tersebut batil maka batal pula seluruh amalan dan ucapan yang dibangun di atasnya. Sebagaimana firman Allah l: “Barang siapa yang mengingkari keimanan maka sungguh telah terhapus amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (al-Maidah: 5) “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu (bahwa) jika kamu menyekutukan Allah niscaya benar-benar amalmu akan terhapus dan kamu benar-benar termasuk orang- orang yang merugi.” (az-Zumar: 65) Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menunjukkan bahwa akidah yang benar adalah akidah yang terhimpun dan terangkum di dalam rukun iman yaitu beriman kepada Allah l, kepada malaikat- Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul- rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada takdir Allah l yang baik ataupun buruk. Perkara yang enam ini merupakan prinsip- prinsip dasar akidah yang benar, yang karenanya Allah l menurunkan Al-Qur’an dan Allah l mengutus Rasul-Nya Muhammad n. (al-‘Aqidah ash-Shahihah, hlm. 3) Kesimpulannya, akidah yang benar adalah akidah yang diambil dari Al-Qur’an dan As- Sunnah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Akidah yang benar ini adalah asas yang Islam dibangun di atasnya dan fondasi dibangunnya seluruh amalan dan ucapan yang diridhai Allah l. Akidah yang Rusak Akidah yang rusak adalah lawan akidah sahihah. Yaitu akidah yang terambil dari peninggalan nenek moyang (taklid), dari fanatisme golongan, jamaah, atau individu, dan yang terambil dari akal. Tentang akidah yang rusak ini, Allah l menjelaskan di dalam firman-Nya: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang- orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata, ‘Apakah kamu akan mengikuti mereka, sekalipun aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (az-Zukhruf: 23—24) “Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang kafir), ‘Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah!’ Mereka mengatakan, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (al- Baqarah: 170) “Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami dulu’.” (al-Qashash: 36) “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah oleh kalian, (karena) sekali-kali tidak ada sembahan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada- Nya).’ Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang bermaksud hendak menjadi orang yang lebih tinggi dari kalian. Dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat, belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami dahulu. Ia tidak lain hanyalah seseorang lelaki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu’.” (al-Mu’minun: 23—25) “Mereka menjadikan orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa.” (at- Taubah: 31) Ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah n kepada ‘Adi bin Hatim z ketika ia datang dalam keadaan sudah menjadi seorang muslim (sebelumnya ia adalah seorang Nasrani) sebagaimana riwayat al-Imam Ahmad dalam Musnad beliau (4/378) dan al-Imam at- Tirmidzi (no. 3094). ‘Adi bin Hatim z menemui Rasululah n, lalu beliau n membacakan ayat ini. ‘Adi bin Hatim berkata, “Mereka tidak menyembahnya.” Rasulullah n berkata, “Bahkan (mereka menyembahnya), (bukankah) mereka (orang alim dan pendeta-pendeta tersebut) telah mengharamkan apa yang dihalalkan atas mereka, dan menghalalkan apa yang telah diharamkan atas mereka, lantas mereka mengikutinya? Itulah penyembahan kepada mereka.” (Dihasankan oleh asy-Syaikh al- Albani dalam Ghayatul Maram no. 6) Ayat-ayat di atas menjelaskan corak akidah batil yang diambil dari ajaran nenek moyang, ajaran individu, atau kelompoknya. Ayat-ayat di atas juga menjelaskan corak kehidupan jahiliah yang melilit leher-leher mereka dengan belenggu taklid. Juga corak kehidupan Yahudi dan Nasrani yang dikungkung dalam penjara ghuluw (berlebihan) dalam menyikapi tokoh-tokoh mereka. Oleh karena itu, mereka terus-menerus berlayar di lautan kebodohan dengan perahu tanpa nakhoda. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t dalam kitab Masa’il al-Jahiliah mengatakan, “Sesungguhnya keyakinan (agama) mereka dibangun di atas prinsip- prinsip dasar yang paling besar yaitu taklid (mengekor), dan ini merupakan kaidah besar pada seluruh agama kekafiran yang dulu ataupun yang terakhir.” Asy-Syaikh Ibnu Baz t mengatakan bahwa orang-orang yang menyelisihi akidah yang benar dan terus berjalan dalam memeranginya jumlahnya banyak sekali. Pertama, para penyembah patung, berhala, malaikat, wali-wali, jin, pohon-pohon, batu- batu, dan lain sebagainya. Kedua, orang-orang yang berakidah ilhad (ingkar/menyeleweng) di masa sekarang ini, yang mereka adalah pengikut Marxis dan Lenin serta penyeru-penyeru ilhad dan kufur selain mereka, apa pun istilah mereka; kapitalisme, komunisme, ba’tsiyyah (sosialisme), dan sebagainya. Karena konsep dasar mereka adalah tidak ada Tuhan dan bahwa kehidupan itu hanyalah materi. Termasuk prinsip dasar mereka adalah ingkar kepada hari akhir, ingkar kepada surga, neraka, dan seluruh agama. Ketiga, apa-apa yang diyakini oleh sebagian aliran kebatinan atau sebagian orang-orang sufi bahwa di antara tokoh atau wali-wali mereka ada yang berkedudukan seperti Allah l dalam pengaturan alam ini dan mereka namakan dengan aqthab, autad, aqwas, dan sebagainya. (disarikan dari al-‘Akidah ash-Shahihah secara ringkas, hlm. 20 dan seterusnya) Bahaya Kerusakan Akidah Bahaya kerusakan akidah bersifat laten baik terhadap individu, jamaah, maupun umat di dunia dan di akhirat. Di antara bahaya- bahayanya adalah: a) Menjerumuskan seseorang atau jamaah ke dalam lubang kesyirikan dan kekufuran serta pengingkaran terhadap akidah yang benar yang diturunkan oleh Allah l dan dibawa oleh Rasul-Nya n. b) Menolak ketentuan-ketentuan syariat dan mengutamakan ajaran nenek moyang, fanatisme akal, dan sebagainya daripada ketentuan-ketentuan syariat tersebut. c) Mengakibatkan kehinaan, keterbe- lakangan, dan kerendahan umat Islam sepanjang masa dan tempat. d) Memecah-belah persatuan umat, menghancurkan kejayaan mereka serta kemenangan demi kemenangan yang telah mereka raih. e) Menjauhkan kaum muslimin dari pertolongan Allah l. f) Menyebabkan terjatuh ke dalam neraka dan kekal di dalamnya (dinukil secara makna dari al-‘Akidah al-Islamiyyah, hlm. 22 dan seterusnya). Seruan Allah l kepada Umat Allah l berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya, amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya).” (al-A’raf: 3) “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (al-An’am: 116) “Katakanlah, ‘Wahai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Maidah: 77) Wallahu a’lam.
Sumber Bacaan: Al-Qur’an Al-Karim Shahih al-Bukhari Shahih Muslim Riyadhush Shalihin Tafsir as-Sa’di Syarah Masa’il al-Jahiliah al-‘Aqidah ash-Shahihah al-’Aqidah al-slami

Mengapa Manhaj Salafus Sholeh ?

Saturday, April 12, 2014

Buat bekal agar semakin mantap melangkah di
atas manhaj yang haq. Supaya bermanfaat
untuk diri saya sendiri dan juga shahabat tholabul 'ilmi yang lain, dan berusaha mengamalkan surat al-'asr, untuk
selalu tawashoubil haq.
Pastinya sebagian dari umat Islam sudah
memahami apa itu manhaj? salaf? dan manhaj
salaf? Secara bahasa manhaj adalah jalan. Salaf
artinya terdahulu, yang dimaksud para salaf adalah
generasi sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in. Manhaj
salaf adalah sebuah metodologi dalam memahami
Al-Qur'an dan As-sunnah yang merujuk pada
pemahaman tiga generasi terbaik. Namun, untuk
memahami istilah salaf, kita harus lihat dari dua
pengertian berikut:

Saudariku Muslimah Tutuplah Auratmu !!!

Saturday, March 29, 2014

Saudariku muslimah yang dimuliakan Allah…
Sesungguhnya syaithan dan bala tentaranya senantiasa berusaha untuk menyesatkan hamba-hamba Allah agar terjerumus ke dalam jurang neraka. Iblis yang merupakan syaithan dari bangsa jin telah bersumpah dihadapan Allah ‘azza wajalla akan menyesatkan seluruh manusia. Allahsubhanahu wa ta’ala berfirman mengenai perkataan dan sumpah Iblis tersebut,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,”” (Qs. Shaad : 82)

Hukum Mendatangi Tukang Ramal dan Membaca Ramalan Bintang

Sunday, March 2, 2014

Mendatangi tukang ramal amat berbahaya. Yang termasuk dalam hukum ini adalah membaca ramalan bintang. Membaca ramalan seperti itu tidak perlu lagi tukang ramal didatangi, namun cukup majalah ramalan bintang atau tayangan ramalan nasib di TV yang dibawa masuk ke dalam rumah.
Berikut rincian yang bagus mengenai hukum mendatangi tukang ramal dan membaca ramalan bintang.
1- Mendatangi dengan membenarkan tukang ramal dalam segala hal dengan keyakinan bahwa tukang ramal itu mengetahuinya dengan sendirinya, bukan setan yang mengabarkan, seperti ini dihukumi kafir (keluar dari Islam). Karena mengetahui hal ghaib secara khusus hanya Allah yang tahu. Allah Ta’ala berfirman,
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” (QS. Al An’am: 59).

Agama Bukan berdasar Logika Anda

Agama bukan dengan logika, agama mesti dibangun di atas dalil. Dalam meyakini suatu akidah dalam Islam mesti dengan dalil. Dalam menetapkan suatu amalan dan hukum pun dengan dalil. Kalau seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih pantas diusap daripada bagian atasnya. Namun ternyata praktek Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang diusap adalah bagian atasnya. Kalau logika bertentangan dengan dalil, maka dalil tetap harus dimenangkan atau didahulukan.
 Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ
“Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Muhasabah Diri: Sebab-Sebab Yang Mendatangkan Cinta Alloh (أن الأسباب عشرةالجالبة للمحبةالله)

Friday, December 20, 2013


Bismillah,
Saudaraku yang budiman, Setiap insan beriman menginginkan cinta sang penguasa yang maha rahman, dimana kecintaan ini tak akan diraih tanpa mengetahui dan menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan kepada-Nya, dengan sebab sebab tersebut Alloh Subhana wa ta’ala akan membalas kecintaan kita, tentu dengan memiliki niat yang kuat, bukti yang nyata & keistiqomahan yang teruji dalam mengamalkan sebab sebab tersebut.
Sungguh banyak bukti kemajuan iman dan amal sholeh seorang hamba dengan menjalankan sebab-sebab yang akan kita jadikan inti bahasan ini,
Maka ketahuilah wahai saudaraku bahwa sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan itu sebagaimana disebutkan Ibnul Qoyim Rahimahulloh :

Pertama:
أحدها: قراءة القرآن بالتدبر والتفهم لمعانيه وما أريد به.
Membaca Alquran Alkarim dengan memahami makna-maknanya seperti yang dikehendaki,

Kedua :
الثاني: التقرب إلى الله تعالى بالنوافل بعد الفرائض.
Mendekatkan diri kepada Alloh Subhana wa ta’ala dengan mengerjakan amalan sunnah sesudah mengerjakan amalan yang wajib ,

Ketiga:
الثالث: دوام ذكره على كل حال باللسان والقلب والعمل والحال، فنصيبه من المحبة على قدر هذا.
Senantiasa mengingat (berdzikir) dan menyebut Asma-Nya dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam hati maupun lisan, dalam perbuatan serta disetiap keadaan, Cinta yang didapatnya dipengaruhi oleh Dzikir ini,

Keempat:
الرابع: إيثار محابه على محابك عند غلبات الهوى.
Lebih mementingkan cinta kepada-Nya dari pada cintamu pada saat engkau dikalahkan hawa nafsumu,

Kelima:
الخامس: مطالعة القلب لأسمائه وصفاته ومشاهدتها، وتقلبه في رياض هذه المعرفة وميادينها
Mengarahkan perhatian hati kepada Asma dan Sifat-Nya, MengetahuiNya dan mempersaksikanya (Pent, Siapa yang mengetahui Alloh Aza wajal melalui sifat,asma’ dan perbuatan-Nya. tentu ia akan mencintai-Nya , Karena itu orang-orang seperti Fir’aun dan Jahmiyah menjadi kan hatinya terhalang untuk mengenal Alloh).

Keenam :
السادس: مشاهدة بره وإحسانه ونعمه الظاهرة والباطنة.
Mempersaksikan dan menyebut-nyebut kebaikan, kemurahan, karunia, serta nikmat Alloh baik yang lahir maupun batin (Pent, karena yang demikian ini bisa memupuk cinta kepada Alloh Aza wa Jal).

Ketujuh:
السابع: – وهو أعجبها- انكسار القلب بين يديه.
Memasrahkan serta menghinakan diri secara total kepada Alloh Subhana wa Ta’ala.

Kedelapan :
الثامن: الخلوة وقت النزول الإلهي، وتلاوة كتابه ثم ختم ذلك بالاستغفار والتوبة
Menyendiri bermunajat kepada Alloh saat Dia turun kelangit Dunia, Memohon kepada-Nya, Membaca kalam-Nya, menghadap dengan segenap hati, memperhatikab adab-adab ubudiyah dihadapan-Nya, kemudian menutup dengan istiqfar dan taubat.
Kesembilan :
التاسع: مجالسة المحبين الصادقين، والتقاط أطايب ثمرات كلامهم، ولا تتكلم إلا إذا ترجحت مصلحة الكلام وعلمت أن فيه مزيدا لحالك ومنفعة لغيرك.
Berkumpul dengan hamba-hamba lainya yang Mencintai-Nya dengan benar, memetik buah buah segar dari perkataan mereka, sebagaimana memetik buah segar dari pohonya, tidak berkata sehingga yakin perkataanya mendatangkan maslahat serta menambah kebaikan dan manfaat bagi saudara lainya.

Kesepuluh:
العاشر: مباعدة كل سبب يحول بين القلب وبين الله عز وجل .
Menyingkirkan segala sebab yang dapat membuka jarak antara hati ini dengan Alloh Subhana wa ta’ala.
Demikianlah saudaraku 10 sebab datangnya kecintaan kepada Alloh aza wa jalla , dan denganya pula kecintaan Alloh akan datang kepada kita selama kita bersungguh-sungguh merenungkanya, memahaminya dan mengamalkanya dengan terus-menerus hingga tanda-tanda cinta itu dinyatakan dalam tajamnya basiroh dalam hatimu, Dan bukti pertemuanmu kelak dengan-Nya dalam surga karunia-Nya, Insya Allohu , Allohua’lam bis showab.

Maraji’ : Kitab Fathul Madjid Syarh Kitab Tauhid Abdurahman Alu Syaikh, Madarijus Shalihin Ibnu Qayim Aljauziyah

KELUASAN AMPUNAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YANG MAHA LUAS

KELUASAN AMPUNAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YANG MAHA LUAS

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas


عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : (( قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً )).

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].

Alasan Terlarangnya Mengucapkan Selamat Natal bagi Muslim

Wednesday, December 18, 2013

Mungkin tidak lama lagi, akan terdengar, akan terpampang tulisan yang dibaca “Merry Christmas”, atau yang artinya Selamat Hari Natal. Dan biasanya, momen ini disandingkan dengan ucapan Selamat Tahun Baru.
Sebagian orang menganggap ucapan semacam itu tidaklah bermasalah, apalagi yang yang berpendapat demikian adalah mereka orang-orang kafir. Namun hal ini menjadi masalah yang besar, ketika seorang muslim mengucapakan ucapan selamat terhadap perayaan orang-orang kafir.
Dan ada juga sebagian di antara kaum muslimin, berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir. Dengan alasan toleransi dalam beragama!? Toleransi beragama bukanlah seperti kesabaran yang tidak ada batasnya. Namun toleransi beragama dijunjung tinggi oleh syari’at, asal di dalamnya tidak terdapat penyelisihan syari’at. Bentuk toleransi bisa juga bentuknya adalah membiarkan saja mereka berhari raya tanpa turut serta dalam acara mereka, termasuk tidak perlu ada ucapan selamat.
Islam mengajarkan kemuliaan dan akhlak-akhlak terpuji. Tidak hanya perlakuan baik terhadap sesama muslim, namun juga kepada orang kafir. Bahkan seorang muslim dianjurkan berbuat baik kepada orang-orang kafir, selama orang-orang kafir tidak memerangi kaum muslimin.

Masa Muda Taat, Masa Tua akan Allah Jaga

Sunday, December 1, 2013

Sebagian remaja menghabiskan waktunya di masa muda dengan hal sia-sia. Jauh dari masjid, jauh dari majelis taklim, jauh dari mengenal Allah. Padahal masa muda adalah cerminan dari masa tua kita.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma-,
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”[1] Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan  larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah).

Ku Potret Rinduku yang tak Bertunas.

Harus jujur kuakui, sulit bagiku tuk definisikan kata rindu. Namun kuserahkan saja jemariku menari untuk menyulam beberapa kalimat agar mengungkapkan apa yang kuketahui tentang rindu itu sendiri.


Siapapun berhak memberikan pandangan tentang rindu. Aku berpikir, katarindu itu sendiri bersifat umum. Dan akan benar-benar bermakna serta bersifat khusus sekiranya disertai obyek yang dirindu. Obyek tersebut bisa nyata ataupun abstrak tergantung subyek atau sosok yang sedang merindu.

Tak salah pula sekiranya kututurkan bahwa rindu adalah sebuah kata kerja bagi hati. Ia bukanlah kata kerja bagi anggota badan yang walaupun anggota badan kerap kali tergerak untuk melakukan sesuatu sebagai respon daririndu itu sendiri..

Rasanya sulit jua bagiku memandang rindu sebagai sebuah “penyakit”. Namun begitu, tak mudah pula kupandangrindu sebagai reaksi jiwa yang “sehat”. Bagaimana tak kuucap demikian, cobalah engkau rasakan atau bisa jadi detik ini sedang engkau rasakan letupan-letupan rindu yang bergejolak.


Percikan Rindu Di Sudut Hati

Awalnya, rindu mungkin masih tak “liar” dan sedang terlelap nyenyak di sudut ruang hati. Seiring detik berdetak, pemiliknya sering tak tersadar, angin sejuk dari manakah yang jadikan rindu itu terbangun. Tak pula diketahui, mimpi manakah yang jadikan rindu itu tiba-tiba terjaga.

Seiring waktu pula, rindu semakin bereaksi dan “mengamuk” serta berkecamuk hebat di hati. Pada saat yang sama, terbisiklah telinga untuk segera mendengar hal-hal yang rindu inginkan. Tersapalah lidah untuk berbicara. Terayulah mata untuk memandang. Tergodalah jiwa tuk rasakan hal-hal yang ingin dikenang.


Obati Rindu

Saat-saat seperti itulah kukatakan rindu sebagai “penyakit”. Walau tak bersifat medis, ia pula terkadang timbulkan gejala-gejala lain yang menyebabkan si empunya terbaring sakit. Karena itu, sudah seharusnya rindu itu diobati. Dan hanya perjumpaanlah yang menjadi penawar sekaligus obat utamanya.


Potret-potret Rindu

Ada banyak potret-potret kerinduan yang bertaburan dalam kehidupan. Siapa yang tak pernah merindu, bisa dipastikan tak ada cinta yang ia semburatkan karena rindu tumbuh seiring suburnya tunas-tunas cinta.

***

Dulu, ketika engkau bayi dan ditinggal sebentar sang ibu, tangisanmu langsung meledak dan serpihannya menusuk hati sang ibu. Terkumpul bermacam rindu darimu untuk ibu. Kau rindukan air susunya. Kau rindukan pelukan hangatnya. Kau rindukan suaranya. Kau rindukan belaian sayangnya.
Begitu pun sang ibu, pada saat yang sama, ia rindukan imut wajahmu. Ia rindukan candaanmu. Ia rindukan segalanya yang ada padamu.

***
Mari sejenak intip sang ayah yang sedang bekerja seharian di luar rumah. Di tengah fokusnya menyelesaikan tugas, rindu pun datang bertandang. Ia rindukan anak dan istri di rumah. Ia rindukan canda si kecil di beranda. Iarindukan sentuhan lembut kekasih hati. Ia rindukan racikan masakan kesukaan yang selalu terhidang. Hati begitu ingin cepat pulang.

***
Seorang wanita pun begitu sensitif disapa oleh rindu. Karena tak tundukan pandangan atau tak menjaga etika syari bermu’amalah, wajah seorang laki-laki pun berhasil terekam melalui mata kemudian ditransfer dan tersimpan dalam pikirannya. Lelaki itu miliki titik-titik pesona dan mampu ditangkap sang wanita.
Itulah yang menjadikan sang wanita terbalut rindu penuh harap dalam alam lamunannya. rindu menjadikan telaga air matanya bergelombang riuh hingga terbulir bening bak kristal menyusuri pipi.


***
Terlebih lagi bagi mereka baik laki-laki maupun wanita yang diberikan hidayah oleh Allah untuk lepas dari hubungan tak jelas dan haram yang bernama pacaran. Datanglah rindu mencandai dua insan itu. Mereka kenang masa-masa “indah” yang telah berlalu. Syaitan pun beraksi untuk mengikis hidayah yang telah mereka raih. Ujung-ujungnya, kembali mereka jalin jalinan hingga dosa-dosa maksiat kembali tertabung.


***
Dan masih terasa lama menghampiri,salah satu kerinduan orang-orang beriman untuk dan akan terobati dengan datangnya bulan Ramadhan. Tamu agung yang dinanti-nanti. Di bulan itulah orang-orang beriman menabung limpahan pahala dengan memperbaiki kualitas dan kuantitas amal. Mendekati hari pertama puasa, rindu mereka memuncak. Sebelas bulan sudah berlalu dan pada saat itu mereka rindukan nikmatnya beribadah, mereka rindukan suasana berbuka puasa, mereka rindukan suasana sahur penuh berkah, dan pula, mereka rindukan tetesan-tetesan air mata kala berdoa dan bersujud di hadapan ar-rahman. ..



Baiklah, kutitip rindu buat anda semua. Semoga kan kita bersua di taman-taman surga. Amiin ya mustajiba sa ilin.

Ketika Busana Muslimah Dicampakkan

Monday, October 21, 2013

Dewasa ini muncul busana muslimah dengan beragam corak dan mode. Bahkan terpajang di outlet-outlet penjualan yang biasanya dipenuhi baju-baju pengumbar aurat. Namun, kebanyakan busana-busana muslimah tersebut masih mempertontonkan lekuk tubuh, sempit, lagi ketat. Demikian pula aneka jilbab gaul dengan desain seperti topi yang hanya menutupi rambut belaka.
Di sisi lain, busana muslimah hanya dipakai dalam acara-acara tertentu atau kegiatan keagamaan. Misalnya hanya ketika shalat, seorang wanita muslimah berusaha menutupi tubuhnya dari atas sampai bawah sehingga rambut dan kaki tidak terlihat. Namun, begitu salam telah diucapkan, maka keadaannya akan kembali seperti semula.

Bendahara Yang Jujur dan Amanah

Saturday, October 19, 2013

Di zaman seperti ini susah menemukan bendahara yang amanat. Ada yang memang jujur dan memegang amanat, namun itu bisa dihitung dengan jari. Merekalah segelintir orang yang yang Allah beri petunjuk. Padahal orang yang amanat dan jujur itulah yang bisa terus mendapatkan pahala sedekah jika membelanjakan harta untuk tujuan baik. Begitu pula hidup orang seperti itu akan mudah meraih berkah dan kemudahan. Beda halnya jika tidak jujur dan selalu mengurangi amanat.

Surat Jawaban Sang Anak Atas Jeritan Hati Sang Ibu

Sunday, September 29, 2013

Segala puji bagi Allah… yang telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.
Shalawat serta salam hamba -yang lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yang mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…

Ibu…
Aku terima suratmu yang engkau tulis dengan tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yang aku sisakan.
Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’… Semenjak sholat isya’… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yang engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…

Remaja Feed

Nasehat feed

Sentu Hatimu Feed

AL QURAN Feed

JALAN KEBENARAN Feed

 

© Copyright BERSATU DALAM ISLAM 2012 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.