News Update :

Powered by Blogger.

Manhaj Feed

AQIDAH feed

Doa dan Dzikir Feed

AMALAN Feed

Showing posts with label Shirah Ulama. Show all posts
Showing posts with label Shirah Ulama. Show all posts

Tokoh Tabi’in: Ar-Rabi bin Khutsaim

Thursday, September 26, 2013

Hilal bin Isaf bercerita kepada tamunya yang bernama Mundzir ats-Tsauri: “Tidakkah sebaiknya kuantarkan engkau kepada syaikh agar kita bisa menambah keimanan sesaat?” Jawab Mundzir: “Baik, aku setuju. Demi Allah, tiada yang mendorong aku datang ke Kufah ini melainkan karena ingin bertemu dengan gurumu, Rabi’ bin Khutsaim dan rindu untuk bisa tinggal sesaat dalam taman iman bersamanya. Akan tetapi apakah engkau sudah minta izin kepadanya? Kudengar dia menderita penyakit rematik sehingga tidak keluar rumah dan enggan menerima tamu?”
Hilal berkata, “Memang begitulah orang-orang Kufah mengenalnya, sakitnya itu tidak mengubahnya barang sedikit pun.” Mundzir berkata, “Baiklah. Tetapi Anda tahu bahwa syaikh ini memiliki perasaan yang halus, apakah menurut Anda kita layak mendahului bicara dan bertanya sesuka kita? Atau kita diam saja menunggu beliau mulai bicara?”
Hilal menjawab, “Andaikata engkau duduk bersama Rabi’ bin Khutsaim selama setahun lamanya, maka dia tidak akan bicara apapun kecuali jika engkau yang mulai berbicara dan akan terus diam bila tidak kau dahului dengan pertanyaan. Sebab dia menjadikan ucapannya sebagai dzikir dan diamnya untuk berpirkir.”
Mundzir berkata, “Kalau begitu, marilah kita mendatanginya dengan barakah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Kemudian pergilah keduanya kepada syaikh itu. Setelah memberi salam, mereka bertanya, “Bagaimana kabar Anda pagi ini wahai syaikh?”
Ar-Rabi’: “Dalam keadaan lemah, penuh dosa, memakan rezeki-Nya, dan menanti ajalnya.”
Hilal: “Sekarang di Kufah ini ada tabib yang handal. Apakah syaikh mengizinkan kami memanggilnya untuk Anda?”
Ar-Rabi’: Wahai Hilal, aku tahu bahwa obat itu adalah benar-benar berkhasiat. Tetapi aku belajar dari kaum Aad, Tsamud, penduduk Rass dan abad-abad di antara mereka. Telah kudapati bahwa mereka sangat gandrung dengan dunia, rakus dengan segala perhiasannya. Keadaan mereka lebih kuat dan lebih ahli dari kita. Di tengah-tengah mereka banyak tabib, namun tetap saja ada yang sakit. Akhirnya tak tersisa lagi yang mengobati maupun yang diobati karena binasa. (beliau menghela nafas panjang dan berkata), seandainya itulah penyakitnya, tentulah aku akan berobat.”
Mundzir: “Kalau demikian, apa penyakit yang Anda derita wahai Syaikh?”
Ar-Rabi’: “Penyakitnya adalah dosa-dosa.”
Mundzir: “Lantas, apa obatnya?”
Ar-Rabi’: “Obatnya adalah istighfar.”
Mundzir: “Bagaimana bisa pulih kesehatannya?”
Ar-Rabi’: “Dengan bertaubat, kemudian tidak mengulangi dosanya (Beliau menatap kedua tamunya sambil berkata), dosa yang tersembunyi… dosa yang tersembunyi… waspadalah kalian terhadap dosa yang meski tersembunyi dari orang-orang, namun jelas bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, segeralah datangkan obatnya!”
Mundzir: “Apa obatnya?”
Ar-Rabi’: “Dengan taubat nasuha (lalu beliau menangis hingga basah jenggotnya).”
Mundzir: “Mengapa Anda menangis wahai Syaikh?”
Ar-Rabi: “Bagaimana aku tidak menangis? Aku pernah berkumpul bersama suatu kaum (yakni para sahabat Nabi) di mana kedudukan kami dibanding mereka seakan sebagai pencuri.”
Hilal bercerita: “Ketika kami asyik berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah seorang putranya, setelah memberi salam dia berkata:
“Wahai ayah, ibu membuatkan roti yang manis dan lezat agar ayah mau memakannya, berkenankah ayah jika aku bawakan kemari?” Beliau berkata, “Bawalah kemari.” Pada saat putranya keluar, terdengar orang meminta-minta mengetuk pintu. Syaikh itu berkata, “Suruhlah dia masuk.”
Ternyata dia adalah seorang tua yang berpakaian compang-camping. Air liurnya belepotan kesana kemari, terlihat dari wajahnya bahwa dia tidak begitu waras. Saya terus memperhatikan hingga kemudian masuklah putra Syaikh Rabi membawa roti di tangannya. Ayahnya langsung mengisyaratkan agar roti tersebut diberikan kepada orang yang meminta-minta tersebut.
Roti itu diletakkan di tangan pengemis tersebut. Sesegera mungkin orang itu memakannya dengan lahap. Air liurnya mengalir di sela-sela roti yang dimakannya. Dia melahapnya hingga habis tanpa sisa.
Putra Syaikh yang membawakan roti tersebut berkata, “Semoga Allah merahmati Ayah, ibu telah bersusah payah untuk membuat roti itu untuk Ayah, kami sangat berharap agar Ayah sudi menyantapnya, namun tiba-tiba Ayah berikan roti itu kepada orang linglung yang tidak tahu apa yang sedang dimakannya.” Syaikh menjawab, “Wahai putraku, jika dia tahu, maka sesungguhnya AllahSubhanahu wa Ta’ala Maha Tahu.” Kemudian beliau membaca firman Allah:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian [yang sempurna], sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba datanglah seseorang yang masih terhitung sebagai kerabatnya dan berkata, “Wahai Abu Yazid, Hasan bin Fatimah terbunuh, semoga keselamatan tercurah atasnya dan juga ibunya.” Maka Syaikh berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un,” lalu membaca firman AllahSubhanahu wa Ta’ala
Katakanlah, Wahai Allah, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-MU tentang apa yang selalu mereka perselisihkan.” (QS. Az-Zumar: 46)
Akan tetapi, rupanya orang itu belum puas dengan reaksi Syaikh, sehingga dia bertanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang pembunuhnya?” Beliau berkata, “Kepada Allah dia kembali dan menjadi hak perhitungannya.”
Hilal melanjutkan ceritanya, “Setelah kulihat waktu hampir memasuki zuhur, aku berkata, “Wahai Syaikh, berilah aku nasihat.”
Beliau berkata, “Wahai Hilal, janganlah engkau terpedaya dengan banyaknya sanjungan orang terhadapmu, sebab orang-orang tidak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya, melainkan hanya melihat lahiriahmu saja. Ketahuilah, sesungguhnya engkau tergantung pada amalanmu, setiap amalan yang dikerjakan bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan sia-sia.”
Mundzir juga berkata, “Wahai Syaikh, berilah wasiat kepadaku juga, semoga Allah membalas kebaikan Anda.”
Beliau berkata, “Wahai Mundzir, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap ilmu yang telah kau ketahui dan yang masih tersembunyi bagimu, serahkanlah kepada yang mengetahuinya. Wahai Mundzir jangan sekali-kali salah satu dari kalian berdoa: “Ya Allah, aku telah bertaubat,” lalu tidak melakukannya, sebab dia dianggap dusta. Tapi katakanlah: “Ya Allah, ampunilah aku,” maka itu akan menjadi doa. Ketahuilah wahai Mundzir, tidak ada kebaikan dalam ucapan melainkan untuk tahlil, tahmid, takbir, dan tasbih kepada Allah, kemudian bertanya tentang kebaikan, menjaga dari kejahatan, menyeru yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan membaca Alquran.”
Mundzir berkata, “Telah lama kami duduk bersama Anda, namun sedikit pun kami tidak mendengar ucapan sya’ir dari Anda, sedangkan kami melihat sebagian dari sahabat Anda mengucapkannya.”
Beliau berkata, “Tak ada sepatah katapun yang aku ucapkan kecuali akan dicatat di dunia dan kelak akan dibacakan di akhirat. Aku tidak suka mendapatkan bukuku dibacakan di hari kiamat sedangkan di dalamnya ada kata-kata sya’ir.”
Kemudian beliau memperhatikan kami dan berkata, “Perbanyaklah mengingat mati, karena ia adalah perkara ghaib yang amat dekat tiba saatnya. Sesuatu yang ghaib meskipun lama waktunya, pasti serasa dekat ketika datangnya.”
Beliau terisak menangis sambil berkata terbata-bata, “Apa yang akan kita perbuat kelak tatkala (kemudian membaca firman Allah)
Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.” (QS. Al-Fajar: 21-23)
Belum lagi beliau selesai bicara, terdengar suara adzan zurhur. Bersamaan dengan itu putranya datang, lalu Syaikh berkata kepadanya, “Mari kita sambut panggilan Allah.”
Putranya berkata kepada kami, “Tolong bantu saya untuk memapah beliau ke masjid. Semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan kepada kalian.”
Kemudian kami memapahnya bersama-sama sehingga dia bisa bergantung di antara aku dan putranya pada saat berjalan. Mundzir berkata: “Wahai Abu Yazid, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rukhsah (keringanan) bagi Anda untuk boleh shalat di rumah.”
Beliau berkata, “Memang benar apa yang Anda katakan, akan tetapi aku mendengar seruan, “Marilah menuju kemenangan!” Barangsiapa mendengar seruan itu hendaknya mendatanginya walau harus dengan merangkak…”
Setelah cerita tersebut.. tahukah Anda, siapakah sebenarnya ar-Rabi’ bin Khutsaim itu?
Beliau adalah salah satu ulama tabi’in yang utama dan satu di antara delapan orang yang dikenal paling zuhud di masanya. Beliau orang Arab asli, suku Mudhar dan silsilahnya bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakeknya, Ilyas dan Mudhar. Beliau tumbuh di atas ketaatan kepada Allah sejak usia dini.
Ibunda beliau sering terbangun di tengah malam dan melihatnya masih berada di mihrabnya, hanyut dalam munajatnya dan tenggelam dalam shalatnya. Ibunya menegur: “Wahai anakku Rabi’, tidakkah engkau tidur?” Beliau menjawab, “Bagaimana bisa tidur seseorang yang di waktu gelap khawatir akan disergap musuh?”
Melelehlah air mata di pipi ibu yang telah lanjut usia dan lemah itu, lalu mendoakan putranya agar mendapat kebaikan.
Ar-Rabi’ tumbuh menjadi dewasa, seiring dengan bertambah wara dan takutnya kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala. Seringkali ibunya merasa khawatir karena melihat putranya sering menangis sendiri di tengah malam, padahal orang lain tengah lelap dengan tidurnya. Sampai-sampai terlintas di benak ibunya sesuatu yang bukan-bukan, lalu beliau memanggilnya,
Ibu: “Apa yang sebenarnya terjadi atas dirimu wahai anakku, apakah engkau telah berbuat jahat atau telah membunuh orang?”
Ar-Rabi’: “Benar, aku telah membunuh seorang jiwa.”
Ibu: “Siapakah gerangan yang telah engkau bunuh, nak? Katakanlah agar aku bisa meminta orang-orang menjadi perantara untuk berdamai dengan keluarganya, mungkin mereka akan memaafkanmu. Demi Allah seandainya keluarga korban itu mengetahui tangisan dan penderitaanmu itu, tentulah mereka akan merasa kasihan melihatmu.”
Ar-Rabi: “Wahai ibu, jangan beritahukan kepada siapapun, aku telah membunuh jiwaku dengan dosa-dosa.”
Beliau adalah murid dari Abdullah bin Mas’ud, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialah murid yang paling banyak meneladani sikap dan perilakunya. Hubungan ar-Rabi dengan gurunya layaknya seorang anak dengan ibunya. Kecintaan guru terhadap muridnya laksana kasih sayang seorang ibu terhadap anak tunggalnya. Ar-Rabi’ biasa keluar masuk rumah gurunya tanpa harus meminta izin. Bila dia datang, maka yang lain tidak diizinkan masuk sebelum ar-Rabi’ keluar.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu merasakan ketulusan dan keikhlasan ar-Rabi, kebagusan ibadahnya yang memancar kuat di hatinya, rasa kecewanya lantaran tertinggal dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tidak mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu sahabat beliau. Ibnu Mas’ud berkata kepadanya: “Wahai Abu Yazid, seandainya Rasulullah melihatmu, tentulah beliau mencintaimu.” Beliau juga berkata, “Setiap kali melihatmu, aku teringat pada para mukhbitin [orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah].
Apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud tidaklah berlebihan, karena Rabi’ bin Khutsaim telah mampu mencapai kesederhanaan dan ketakwaan yang jarang bisa dilakukan oleh orang lain dan selalu diunggulkan dalam berita-berita yang mengharumkan lembaran sejarah. Di antaranya yang disebutkan oleh salah satu kawannya:
“Sudah 20 tahun aku berteman dengan ar-Rabi’, namun belum pernah kudengar dia mengucapkan suatu perkataan kecuali perkataan yang naik kepada Allah, lalu beliau membaca:
Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal-amal yang shaleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)
Abdurrahman bin Ajlan bercerita: “Suatu malam aku menginap di rumah ar-Rabi’. Ketika dia merasa yakin bahwa aku telah tertidur, beliau bangun lalu shalat sambil membaca ayat:
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalat, baik di masa hidupnya dan sesudah matinya? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21)
Beliau menghabiskan sepanjang malamnya untuk shalat dan mengulang-ulang ayat tersebut hingga fajar, sementara air mata membahasi kedua pipinya.
Berita tentang rasa takut Rabi’ bin Khutsaim kepada Allah begitu banyak, di antara contohnya adalah kisah yang diceritakan seorang kawannya:
“Suatu hari kami pergi menyertai Abdullah bin Mas’ud ke suatu tempat bersama ar-Rabi’ bin Khutsaim. Tatkala perjalanan kami sampai di tepi sungai Eufrat, kami melewati suatu perapian besar tempat membakar batu bata. Apinya menyala berkobar-kobar, terbayang akan kengeriannya, semburan apinya menjilat dengan dahsyatnya, gemuruh suara percikan apinya dan gemertak batu bata yang sudah dimasukkan ke dalamnya.
Tatkala melihat pemandangan itu, ar’Rabi’ terpaku di tempatnya, tubuhnya mengigil dengan hebatnya lalu beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqan: 13)
Hingga akhirnya beliau pingsan. Kami merawatnya hingga sadar kembali lalu membawanya pulang ke rumahnya.”

Tokoh Tabi’in Syuraih al-Qadhi Hakim yang Bijak

Tuesday, April 16, 2013


Kisah Tabi’in Syuraih al-Qadhi

Hari itu, amirul mukminin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu membeli seekor kuda dari seorang dusun. Setelah membayarnya, beliau menaiki kuda tersebut dan bermaksud pulang menuju rumahnya. Namun tak seberapa jauh dari tempat itu, tiba-tiba kuda tersebut menjadi cacat dan tak mampu melanjutkan perjalanan. Maka Umar membawanya kembali kepada si penjual seraya berkata,
Umar: “Aku kembalikan kudamu, karena ternyata dia cacat.”
Penjual: “Tidak wahai amirul mukminin, tadi aku menjualnya dalam keadaan baik.”
Umar: “Kita cari seseorang yang akan memutuskan permasalahan ini.
Penjual: “Aku setuju, aku ingin Syuraih bin al-Harits al-Kindi menjadi hakim bagi kita berdua.”
Umar: “Mari.”

Uwais Al Qarni


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita mengenai Uwais al-Qarni tanpa pernah melihatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) untukmu, maka lakukanlah!”

Meluruskan sejarah dan Biografi Syaikh abdul Qodir Jailani

Monday, March 18, 2013

Abdul Qadir Al-Jailani

Biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani termuat dalam kitab Adz Dzail 'Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Tetapi, buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah oleh manusia siapapun.

Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do'a mereka. Berkeyakinan bahwa do'a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

Mengenal Imam Bukhari

Saturday, January 26, 2013


Muhammad bin Hatim Warraq Al-Bukhari rahimahullah menceritakan, “Aku bermimpi melihat Bukhari berjalan di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap kali Nabi mengangkat telapak kakinya maka Abu Abdillah (Bukhari) pun meletakkan telapak kakinya di situ.” (Hadyu Sari, hal. 656)



Nama dan Nasabnya
Beliau bernama Muhammad, putra dari Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah. Beliau dilahirkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H di Bukhara (Bukarest). Ketika masih kecil, ayahnya yaitu Isma’il sudah meninggal sehingga dia pun diasuh oleh sang ibu. Ghinjar dan Al-Lalika’i menceritakan bahwa ketika kecil kedua mata Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.” Pagi harinya dia dapati penglihatan anaknya telah sembuh (lihat Hadyu Sari, hal. 640)

Sanjungan Para Ulama KepadanyaAbu Mush’ab rahimahullah (di dalam cetakan tertulis Abu Mu’shab, sepertinya ini salah tulis karena dalam kalimat sesudahya ditulis Abu Mush’ab, pent) Ahmad bin Abi Bakr Az Zuhri mengatakan, “Muhammad bin Isma’il (Bukhari) lebih fakih dan lebih mengerti hadits dalam pandangan kami daripada Imam Ahmad bin Hambal.” Salah seorang teman duduknya berkata kepadanya, “Kamu terlalu berlebihan.” Kemudian Abu Mush’ab justru mengatakan, “Seandainya aku bertemu dengan Malik (lebih senior daripada Imam Ahmad, pent) dan aku pandang wajahnya dengan wajah Muhammad bin Isma’il niscaya aku akan mengatakan: Kedua orang ini sama dalam hal hadits dan fiqih.” (Hadyu Sari, hal. 646)
Qutaibah bin Sa’id rahimahullah mengatakan, “Aku telah duduk bersama para ahli fikih, ahli zuhud, dan ahli ibadah. Aku belum pernah melihat semenjak aku bisa berpikir ada seorang manusia yang seperti Muhammad bin Isma’il. Dia di masanya seperti halnya Umar di kalangan para sahabat.” (Hadyu Sari, hal. 646)
Muhammad bin Yusuf Al Hamdani rahimahullah menceritakan: Suatu saat Qutaibah ditanya tentang kasus “perceraian dalam keadaan mabuk”, lalu masuklah Muhammad bin Isma’il ke ruangan tersebut. Seketika itu pula Qutaibah mengatakan kepada si penanya, “Inilah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan Ali bin Madini yang telah dihadirkan oleh Allah untuk menjawab pertanyaanmu.” Seraya mengisyaratkan kepada Bukhari (Hadyu Sari, hal. 646)
Ahmad bin Hambal rahimahullah mengatakan, “Negeri Khurasan belum pernah melahirkan orang yang seperti Muhammad bin Isma’il.” (Hadyu Sari, hal. 647)
Bundar Muhammad bin Basyar rahimahullah mengatakan tentang Bukhari, “Dia adalah makhluk Allah yang paling fakih di zaman kami.” (Hadyu Sari, hal. 647)
Hasyid bin Isma’il rahimahullah menceritakan: Ketika aku berada di Bashrah aku mendengar kedatangan Muhammad bin Isma’il. Ketika dia datang, Muhammad bin Basyar pun mengatakan, “Hari ini telah datang seorang pemimpin para fuqoha’.” (Hadyu Sari, hal. 647)
Muslim bin Hajjaj rahimahullah -penulis Shahih Muslim, murid Imam Bukhari- mengatakan, “Aku bersaksi bahwa di dunia ini tidak ada orang yang seperti dirimu (yaitu seperti Bukhari).” (Hadyu Sari, hal. 650)
Kekuatan Hafalan Imam Bukhari dan Kecerdasannya
Muhammad bin Abi Hatim Warraq Al Bukhari menceritakan: Aku mendengar Bukhari mengatakan, “Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis (kuttab).” Aku berkata kepadanya, “Berapakah umurmu ketika itu?” Dia menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari Kuttab, aku pun bolak-balik menghadiri majelis haditsnya Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Suatu hari tatkala membacakan hadits di hadapan orang-orang dia (Ad-Dakhili) mengatakan, ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Maka dia pun menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, ‘Rujuklah kepada sumber aslinya, jika kamu punya.’ Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah Az Zubair (bukan Abu Zubair, pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, ‘Kamu benar’. Menanggapi cerita tersebut, Bukhari ini Warraq berkata, “Biasa, itulah sifat manusia. Ketika membantahnya umurmu berapa?” Bukhari menjawab, “Sebelas tahun.” (Hadyu Sari, hal. 640)
Hasyid bin Isma’il menceritakan: Dahulu Bukhari biasa ikut bersama kami bolak-balik menghadiri pelajaran para masayikh (para ulama) di Bashrah, pada saat itu dia masih kecil. Dia tidak pernah mencatat, sampai-sampai berlalu beberapa hari lamanya. Setelah 6 hari berlalu kami pun mencela kelakuannya. Menanggapi hal itu dia mengatakan, “Kalian merasa memiliki lebih banyak hadits daripada aku. Cobalah kalian tunjukkan kepadaku hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadits tersebut. Lalu ternyata dia menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dia membacakan hadits-hadits itu semua dengan ingatan (di luar kepala), sampai-sampai kami pun akhirnya harus membetulkan catatan-catatan kami yang salah dengan berpedoman kepada hafalannya (Hadyu Sari, hal. 641)
Muhammad bin Al Azhar As Sijistani rahimahullah menceritakan: Dahulu aku ikut hadir dalam majelis Sulaiman bin Harb sedangkan Bukhari juga ikut bersama kami. Dia hanya mendengarkan dan tidak mencatat. Ada orang yang bertanya kepada sebagian orang yang hadir ketika itu, “Mengapa dia tidak mencatat?” Maka orang itu pun menjawab, “Dia akan kembali ke Bukhara dan menulisnya berdasarkan hafalannya.” (Hadyu Sari, hal. 641)
Suatu ketika Bukhari rahimahullah datang ke Baghdad. Para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadits yang telah dibolak-balikkan isi hadits dan sanadnya, matan yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadits ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadits yang berbeda kepada Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadits yang mereka bawakan, maka Bukhari menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini selesai, maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu, “Adapun hadits yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadits yang benar adalah demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadits beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadits yang telah dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau (lihat Hadyu Sari, hal. 652)
Muhammad bin Hamdawaih rahimahullah menceritakan: Aku pernah mendengar Bukhari mengatakan, “Aku hafal seratus ribu hadits sahih.” (Hadyu Sari, hal. 654). Bukhari rahimahullah mengatakan, “Aku menyusun kitab Al-Jami’ (Shahih Bukhari, pent) ini dari enam ratus ribu hadits yang telah aku dapatkan dalam waktu enam belas tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah.” (Hadyu Sari, hal. 656)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menuturkan bahwa apabila Bukhari membaca Al-Qur’an maka hati, pandangan, dan pendengarannya sibuk menikmati bacaannya, dia memikirkan perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di dalamnya, dan mengetahui hukum halal dan haramnya (lihat Hadyu Sari, hal. 650)
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas jasa-jasa beliau dengan sebaik-baik balasan dan memasukkannya ke dalam Surga Firdaus yang tinggi. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dapat melanjutkan perjuangannya dalam membela Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebarkannya kepada umat manusia. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Biografi Ringkas Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin


Nasabnya
Beliau adalah Abu Abdillah, Muhammad bin Sholih Al Utsamin, Al Wuhaibi, At Tamimi.
Kelahirannya
Beliau dilahirkan di kota ‘Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H.
Pertumbuhannya
Beliau belajar al-Qur’an pada kakeknya dari jalur ibunya, Abdurrahman bin Sulaiman Alu Damigh rahimahullah, kemudianmenghafalnya. Setelah itu beliau mulai belajar khat (menulis), ilmu hitung, dan sebagian cabang ilmu sastra.


Remaja Feed

Nasehat feed

Sentu Hatimu Feed

AL QURAN Feed

JALAN KEBENARAN Feed

 

© Copyright BERSATU DALAM ISLAM 2012 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.